Sabtu, 09 November 2013

Gambaran PKR yang Ideal dan Praktik yang terjadi dilapangan



Gambaran PKR yang Ideal dan Praktik yang terjadi dilapangan
Praktik mengajar dengan merangkap kelas bukan hal yang asing lagi di negara kita ini. Perangkapan kelas juga bukan monopoli SD yang di desa / di daerah terpencil saja. Dan bukan saja di karenakan kekurangan guru. Di daerah perkotaan dan di SD yang gurunya relatif cukup , juga sering diketemukan praktik perangkapan kelas. Alasan yang sering muncul adalah guru yang berhalangan hadir.


A.      Praktik mengajar kelas rangkap di lapangan.
Bacalah dengan baik peristiwa yang di sajikan dalam kotak 1, yang merupakan hasil pengamatan di sebuah SD dimana seorang guru sedang mengajar kelas rangkap.
                                                            Kotak 1
       Ibu Indri (bukan nama sebenarnya) mengajar di kelas 3 dan kelas 5. Murid dari kedua kelas tersebut berada pada ruang kelas masing-masing, tetapi masih bersebelahan. Pelajaran dimulai pukul 07.30. Ibu Indri pertama masuk dikelas 3 dan mulai mengabsen muridnya. Tiba-tiba Nico baru saja datang, dialog terjadi karena keterlambatan salah satu murid tersebut. Kegiatan bu Indri berikutnya adalah menjelaskan pelajaran matematika. Sekali-kali berhenti dan bertanya pada murid apakah ada yang belum mengerti. Kemudian ia member soal-soal di papan tulis . Setelah itu, Ibu Indri masuk ke kelas 5 . Dikelas 5 ia juga mengabsen murid dengan cara yang tidak berbeda dengan apa yang dilakukan dengan kelas 3. Bahkan terjadi dialog yang agak panjang karena Salma salah satu murid kelas 5 tidak hadir. Beberapa murid ditanya bu Indri tidak ada yang mengetahui keberadaan Salma. Tapi tiba-tiba Martha cerita kalau pulang sekolah kemarin bersama Salma, ia badannya panas dan hidungnya mengeluarkan darah.
       Kemudian bu Indri menjelaskan pelajaran Bahasa Indonesia untuk hari itu. Seperti yang dilakukan di kelas 3 tadi , setelah bu Indri menjelaskan dan memberi kesempatan bertanya pada murid-murid kelas 5 lalu menulis beberapa soal di papan tulis dan menyuruh para murid mengerjakannya secara individual.
       Ibu Indri kembali lagi ke kelas 3 menanyakan apakah mereka sudah selesai mengerjakan soal matematika. Kemudian bu Indri menyuruh beberapa murid untuk bergiliran maju ke depan mengerjakan soal matematika . Kemudian bu Indri menyuruh beberapa murid untuk bergiliran maju kedepan mengerjakan soal matematika dan secara bersama-sama dengan murid bu Indri memeriksa jawaban murid. Semua murid dianjurkan mencocokkan dengan jawaban di papan tulis . Sebelum istirahat bu Indri kembali memberi soal matematika sebagai PR. Selanjutnya bu Indri kembali masuk ke kelas 5. Apa yang di lakukan di kelas 3. Mula-mula murid di suruh maju ke depan mengerjakan soal, memeriksa bersama dan pada akhirnya murid di suruh mencocokkan
pekerjaannya dengan jawaban di papan tulis. Bu Indri kembali memberi soal untuk di kerjakan di rumah, dan selesailah pelajaran bahasa Indonesia hari itu.
Setelah anda selesai membaca dengan seksama praktik pembelajaran yang dilakukan bu Indri. Dapatkah anda menarik kesimpulan ?
Bu Indri sebenarnya tidak melakukan pembelajaran kelas rangkap. Bu Indri melakukan pembelajaran bergilir. Ia mengajar secara bergilir dari kelas satu ke kelas lain dan kembali lagi. Kegiatan belajar mengajar berlangsung tidak serempak. Apa yang dilakukan Bu Indri di kelas 3dan di kelas 5 hampir tak ada bedanya. Materinya memang berbeda tetapi strategi pembelajarannya sama. Hal ini berarti bahwa bu Indra melakukan pembelajaran duplikasi.
Bila kita cermati ilustrasi pada kotak 1, bagaimana bu Indri memulai pelajaran? Ya betul, bu Indri mengabsen murid bahkan pada saat ada murid yang tidak hadir terjadi dialog panjang dengan murid-murid lain. Belum waktu yang hilang pada saat bu Indri mondar-mandir. Tanpa di sadari oleh bu Indri telah terjadi pemborosan waktu.
Pembelajaran berlangsung seragam, dalam waktu yang sama untuk semua murid. Proses pembelajaranpun berlangsung sederhana, mulai dari menerangkan,memberi soal,mengerjakan soal, menyuruh murid maju ke papan tulis . Pembelajaran ini terkesan monoton.
Kontak psikologis antara guru dengan murid sangat terbatas . Guru memang menanyakan kepada murid : “ Siapa yang belum mengerti ?”, “Siapa yang betul?”. Tetapi pertanyaan seperti itu tidak dapat mendorong siswa aktif dan langsung diantara sesama murid . Lebih-lebih tidak ada upaya bu Indri untuk mengelilingi kelas dan mendatangi murid yang sedang mengerjakan soal.
Agar anda dapat membandingkan dengan praktik pembelajaran yang pertama, maka bacalah kembali dengan seksama kesan pada ilustrasi berikut ini.

                                                Kotak 2
            Bapak Suruan hari itu memulai pengajarannya di kelas 4. Setelah mengucapkan salam dan mengarahkan murid, kemudian pak Suruan menyuruh murid-murid mengeluarkan buku catatan. Jam pertama adalah pelajaran IPS . Pak Suruan kemudian menyalin salah satu bahan pelajaran IPS dan sementara menulis di papan tulis Pak Suruan mengingatkan supaya anak-anak juga mulai menyalin.
            Kurang lebih 15 menit, pak Suruan telah selesai menyalin kemudian mengingatkan anak-anak untuk menyalin dengan rapi dan berpesan jangan ramai karena bapak akan mengajar juga di kelas 5.
            Selanjutnya pak Suruan masuk ke kelas 5 dan memberikan pelajaran IPA, tentu saja waktu untuk kelas 5 sudah terulur selama kurang lebih 15 menit . Kemudian pak Suruan menyuruh murid-murid mengeluarkan buku catatan dan disuruh menyalin bahan pelajaran IPA yang sedang ditulis pak Suruan di papan tulis sampai selesai.
            Semua yang dilakukan oleh pak Suruan di dua kelas tadi di sebabkan karena murid-murid tidak mempunyai buku. Buku milik gurupun sangat terbatas sekali dan itupun termasuk buku-buku lama. Di sekolah tersebut juga tidak mempunyai alat peraga , apalagi alat-alat IPA.
            Setelah anda membaca cuplikan praktik pembelajaran yang dilakukan oleh pak Suruan, maka anda dapat menemukan jawaban mengapa sebagian besar murid-murid di kelas 4 dan kelas 5 tidak dapat membaca ? padahal tulisan mereka banyak yang baik dan rapi.
            Kebisaan menyalin bahan pembelajaran yang dilakukan oleh murid-murid yang mungkin sudah berlangsung lama sejak di kelas rendah mengurangi, bahkan dapat menghilangkan kesempatan untuk membaca.
            Kalau saja pak Suruan dapat lebih kreatif atau mau berusaha, maka sebenarnya pak Suruan bisa menyuruh beberapa murid yang mempunyai tulisan baik untuk menulis salah satu bahan ajar sebagai PR. Kemudian esoknya di bagikan kepada semua murid dan kemudian menyuruhnya membaca dengan keras atau dalam hati.
            Sebenarnya mengajar kelas rangkap bukan suatu keadaan yang pantas dituduh sebagai penyebab rendahnya kemampuan murid rendah. Ketidakmampuan guru dan enggannya guru berupaya lebih keras untuk membelajarkan siswa lebih pantas dikatakan sebagai penyebab utamanya.

B.     PKR yang ideal atau yang diinginkan
Mari kita kembali mengkaji ilustrasi tentang PKR yang dilaksanakan di Sekolah Dasar. Ilustrasi ini memang bukan yang terbaik, tetapi paling tidak dapat menggambarkan unsure-unsur penting dalam PKR sehingga anda dapat menyimpulkan perbedaan-perbedaan dari praktik mengajar kelas rangkap sebelumnya.
Kotak 3
Mungkin tidak banyak yang mengira bahwa di daerah perkotaan masih ada SD yang mengalami kekurangan guru. Maka mengajar dengan merangkap kelas tak dapat dihindarkan. Hal itulah yang dialami oleh Pak Theo.
Hari itu Pak Theo mengajar di kelas 5 dan kelas 6. Murid-murid yang terdiri dari dua tingkatan kelas yang berbeda itu diajar dalam satu ruang kelas dan dalam waktu yang bersamaan. Mata pelajaran kedua kelas itu berbeda, kelas 5 mata pelajaran matematika dan kelas 6 mata pelajaran Bahasa Indonesia. Murid kelas 5 duduk dijajaran sebelah kanan dan kelas 6 duduk dijajaran sebelah kiri. Masing-masing kelas membentuk kelompok yang terdiri dari 3-5 orang murid. Papan tulispun digunakan untuk kedua tingkat kelas tersebut.
Pak Theo memulai pelajaran dengan mengucapkan selamat pagi. Dengan sikap yang ramah dan senyum yang cerah ia menyapa anak-anak. Pak Theo kemudian bertanya kepada anak-anak tentang pengalaman mereka ketika berangkat ke sekolah. Markus, salah satu murid kelas 6 mendapat kesempatan bercerita tentang pengalamannya saat berangkat ke sekolah tadi. PakTheo tersenyum dan kemudian memberi kesempatan murid lain untuk menceritakan pengalamannya yang lain. Kali ini Winda murid kelas 5 mendapat giliran. Winda lalu bercerita bahwa setiap hari ia harus berangkat setengah enam pagi karena rumahnya agak jauh dari sekolah
Selanjutanya Pak Theo memanggil para ketua kelompok, baik dari ketua kelompok kelas 5 maupun ketua kelompok dari kelas 6. Mereka diberikan wacana ( bahan bacaan ) dan meminta agar wacana itu dibaca di kelompok masing-masing secara bergiliran. Murid kelas 6 mendapat kesempatan bercerita tentang pengalamnnya saat berangkat ke sekolah tadi. Pak Theo tersenyum dan kemudian memberi kesempatan murid yang lan untuk menceritakan pengalaman yang lain. Kali ini Winda murid kelas 5 mendapat giliran. Winda lalu bercerita bahwa setiap hari ia harus berangkat setengah enam pagi karena rumahnya agak jauh dari sekolah dan ia harus berjalan kaki.
Selanjutnya Pak Theo memanggil para ketua kelompok, baik dari ketua kelompok kelas 5 maupun ketua kelompok dari kelas 6. Mereka diberikan wacana ( bahan bacaan ) dan meminta agar wacana itu dibaca di kelompok masing-masing secara bergiliran.
Apa yang harus dilakukan di dalam kelompok, telah ditulis di papan tulis oleh Pak Theo. Murid-murid diminta membaca petunjuk di papan tulis dan dipersilahkan bertanya jika ada yang belum jelas. Semnetara murid membaca, Pak Theo memantau setiap kelompok dan mencocokkan jumlah murid yang hadir dengan daftar absent kelas.
Selama murid-murid bekerja Pak Theo berkeliling mengawasi kegiatan dan memantau bila ada yang mengalami kesulitan. Beberapa saat kemudian ada murid kelas 6 yang angkat tangan dan menyatakan bahwa kelompoknya  sudah selesai mengerjakan tugas Bahasa Indonesia, kemudian Pak Theo meminta salah satu anggota kelompok tadi untuk membantu salah satu kelompok di kelas 5 yang sedang tadi untuk membantu salah satu kelompok di kelas 5 yang sedang menyelesaikan soal matematika, dan satu murid lagi diminta membantu kelompok lain yang juga mengerjakan tugas Bahasa Indonesia.
Wacana / bahan bacaan itu bercerita tentang upaya penduduk yang membuat sebuah jembatan dari bamboo secara gotong royong. Berapa jumlah bamboo, tali, berapa lama waktu penyelesaian dengan sekian banyak pekerja, berapa ketinggian jembatan jika air naik sekian banyak pekerja, berapa biaya yang diperlukan, berapa persensumbangan masyarakat setempat, dan sebagainya, sengaja dimasukkan dalam wacana untuk materi matematika. Sedangkan untuk Bahasa Indonesia, apa arti kata-kata musyawarah mewakili, rumpun, curah hujan dan sebagainya.
Waktu yang diberikan untuk menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia dan Matematika berbeda. Sementara kelas 5 masih menyelesaikan tugas Matematika, Pak Theo membahas tugas Bahasa Indonesia, setiap kelompok mendapat giliran menjawab atau berkomentar. Beberapa saat kemudian murid kelas 5 juga sudah selesai mengerjakan tugas Matematika. Pak Theo membahasnya dan setiap kelompok juga mendapat giliran mengerjakan di papan tulis. Murid yang lain diminta mencocokkan dengan jawaban yang benar di papan tulis.


Kotak 4
Seperti halnya Pak Theo, Bu Ningsih juga bertugas mengajar dengan merangkap kelas yaitu kelas 4 dan kelas 3. Bu Ningsih tampil agak berbeda dengan kelas Pak Theo. Bu Ningsih memanfaatkan sudut ruang kelas sebagai sudut sumber belajar.  Di sudut itu disamping ada buku pelajaran ada buku bacaan.
Di sudut yang lain juga ada beberapa benda yang mengesankan sebagai sudut IPA, karena  ada tanaman dalam pot-pot kecil, botol-botol, kupu-kupu, dan belalang diawetkan, gambaran bagian tubuh manusia, gambar hewan dan juga gambar tumbuhan, beberapa peralatan listrik seperti lampu, battery, kabel, dan sebagainnya.
Bu Ningsih mulai pelajaran dengan mengucapakan salam dan menanyakan kabar anak-anak dan juga dan juga orang tua mereka. Kemudian menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh murid kelas 4 dan kelas 3. Anak kelas 3 diminta untuk ke salah satu sudut belajar yang ada buku-buku dan benda-benda lainnya. Disana ada toples berisi gulungan kertas dan kemudian mengerjakan tugas sesuai dengan tulisan yang didapatnya.
Beberapa saat kemudian murid kelas 3 masing-masing terlibat dengan tugasnya. Sementara itu Bu Ningsih menerangkan pelajaran murid kelas 4 tentang ikan gabus, bagaimana ikan itu bernafas, dimana ia hidup, bagaimana berkembang biak dan bagaimana ikan tersebut mempertahanakan hidupnya jika air kering. Bu Ningsih juga bertanya kepada anak-anak bagaimana cara menangkap alat-alat yang dapat digunakan untuk menangkap ikan tersebut.
Setelah tanya jawab tentang ikan dan bagaimana cara menangkapnya, kemudian Bu Ningsih meminta anak-anak untuk menggambar ikan dan alat untuk menangkap ikan. Anak-anak menekuni gambar masing-masing. Bu Ningsih lalu mengunjungin  murid kelas 3 yang masih menyelesaikan tugasnya, Bu Ningsih memantau dan memberikan pujian. Kemudian Bu Ningsih meminta anak-anak kembali ke bangku masing-masing dan menjelaskan pelajaran matematika. Selanjutnya menulis soal matematika di papan tulis, masing-masing diminta mengerajakannya.
Bu Ningsih selanjutnya memantau pekerjaan anakkelas 4 dan mengumpulkannya. Selanjutnya ia menerangkan pelajaran Bahasa Indonesia tentang kalimat aktif dan pasif. Selanjutnya anak-anak diminta membuat karangan singkat dengan menggunakan kata yang berlawanan dan berakhiran. Siapa yang sudah selesai boleh menuju sudut belajar yang ada buku-buku bacaan
Bu Ningsih kembali ke murid kelas 3, memantau pekerjaan murid secara bergilir, mebantu murid yang mengalami kesulitan, Bu Ningsih juga menerangkan kembali pada murid yang mengalami kesulitan, memberi balikan dan setelah itu mereka diberi soal lagi sebagai PR.


Dengan membaca dua peristiwa pembelajaran yang dilaksanakan oleh Pak Theo dan Bu Ningsih, Anda telah mendapat gambaran yang memadai tentang praktik PKR yang semestinya, walaupun contoh tersebut diatas belum yang terbaik. Baiklah marilah kita bahas bersama mengapa kelas Pak Theo dan Bu Ningsih lebih baik bila dibandingkan praktik perangkapan kelas yang anda baca terdahulu.
1.      Kelas tampak hidup, murid tampak ceria. Di awal pelajaran Pak dan Bu guru bertanya, tetapi hampir tak ada kaitannya dengan pelajaran hari itu. Pertanyaan seperti itu dengan tujuan agar murid termotivasi dan secara mental siap menerima pelajaran hari itu.
2.      Proses belajar berlangsung serempak, apalagi murid yang berbeda tingkat kelas ada dalam satu ruang. Gangguan yang muncul tidak terlalu serius, sebab ketika guru menerangkan murid dari kelas lain berada disudut ruang yang lain. Tidak ada pembosanan waktu karena guru tidak mondar-mandir pindah kelas.
3.      Guru memanfaatkan ruang kelas yang ada dengan menciptakan sudut sumber belajar. Sudut sumber belajar dapat memberi peluang bagi murid, tanpa pengawasan guru murid dapat mempraktikan konsep belajar menemukan sendiri dan pemecahan masalah.
4.      Murid aktif, konsep CBSA yang sebenarnya nampak. Murid tidak hanya aktif secara individual tetapi juga kelompok dan berpasangan. Murid yang lebih dahulu dimanfaatkan untuk membantu temannya ( tutor sebaya ) atau membantu kelas dibawahnya (tutor kakak )
5.      Adanya asas kooperatif-kompetitif, murid bersemangat mengerjakan tugas, apalagi ketika guru menyanyakan siapa yang sudah selesai lebih dulu akan mendapat nilai tambahan, gambar yang terbaik akan dipajang atau siapa yang selesai duluan boleh membaca buku-buku bacaan, dsb
6.      Belajar dengan pendekatan PKR yang benar, sangat menyenangkan . Belajar sambil bermain, main sambil belajar dapat diperagakan khususnya bila kita sedang mengajar kelas rendah. Hal itu nampak saat anak mengambil gulungan kertas dan membaca apa yang menjadi tugas mereka masing-masing.
7.      Ada perhatian khusus bagi murid yang lambat dan yang cepat. Pada yang lambat guru membantu murid yang mengalami kesulitan, bahkan guru menjelaskan lagi bagian-bagian yang tidak dipahami. Bagi murid yang cepat guru memberikan tugas ekstra, misalnya murid diminta untuk mengambil gulungan kertas yang berisi soal-soal baik mata pelajaran yang baru saja dijelaskan maupun mata pelajaran lain.
8.      Sumber belajar murid bukan saja berasal dari Depdikbud atau Dinas, guru PKR dapat melengkapi sumber belajar yang berasal dari lingkungan sekolah dan lingkungan sekitar. Sudut ruangan menjadi lengkap dengan sumber belajar. Bahkan dapat memupuk tanggung jawab murid dan sara memiliki terhadap kelas dan sekolah mereka.
9.      Prinsip perangkapan kelas tidak hanya dalam bentuk mengajar dua tingkat kelas atau lebih dalam satu ruang kelas atau lebih dan dalam waktu yang bersamaan. Tetapi perangkapan kelas juga berarrti dalam bentuk mengajarkan dua bidang studi atau lebih dalam satu wacana atau topik. Inilah yang disebut pengajaran terpadu ( integrated )
10.  Guru dapat memanfaatkan sumber daya yang ada dilingkungan murid. Misalnya ketika guru menjelaskan tentang bagaimana menangkap iklan, murid-murid menjawab dengan menyebut beberapa alat menangkap ikan yang biasa digunakan di lingkungan sekitar, kemudian murid diminta menggambar alat tersebut.
Setelah dapat membedakan PKR yang ideal dan yang terjadi dilapangan. Mari kita menyimak peranan guru PKR tersebut.
1.      Sebagai perancang kurikulum, hal ini bukan berarti guru menyimpang dari kurikulum yang berlaku bahkan untuk membuat yang baru. Tetapi di daerah terpencil yang serba sulit dan serba kurang, tidak semua butir yang tercantum dalam kurikulum mungkin dilaksanakn dengan memadai. Seringkali mengajarkannya dengan secara berurutan pun mengalami keulitan. Oleh karena itu guru PKR harus memilih butir atau bagian kurikulum yang memerlukan penekanan. Atas dasar butir-butir itu guru memutuskan konsep dan fakta yang akan diajarkannya dan mengurutkan kembali tujuan instruksional uang ingin dicapainya berdasarkan kelas.
2.      Sebagi sumber informasi yang kreatif, guru PKR harus kreatif, ia bukan saja menjadi sumber informasi tetapi juga sebagai manusia sumber, berperan untuk memecahkan masalah keadaan yang serba kurang. Ia harus memberi arahan keoada muridnya agar mereka tidak membuang-buang waktu dan tenaga, agar setiap murid terlibat dalam segala macam kegiatan
3.      Sebagai administrator. Agar dapat mencapai hasil yang maksimal, guru PKR harus merencanakan dan mengatur kelasnya dan jadwal pelajaran dengan saksama. Hasil maksimal dapat dicapai jika guru PKR dapat melibatkan muridnya secara aktif, bukan saja untuk belajar tetapi juga dapat membantu guru mengajar teman-temannya yang tertinggal. Guru PKR juga harus mampu memanfaatkan segenap sumber daya yang ada dilingkungan sekolah
4.      Sebagai seorang porofesional. Guru PKR senantiasa berusaha untuk meningkatkan kompetensinya dan meningkatkan gaya mengajarnya. Walaupun kesempatan untuk mengikuti pelatihan atau pendidikan lanjutan bagi sebagian guru yang ada didaerah terpencil sulit diwujudkan, tepat niat professional harus tetap dipelihara dan yang penting semangat itu selalu ada. Salah satu ciri seorang guru professional adalah juga tidak cepat putus asa. Manusia dapat mencapai apa saja bila tidak cepat putus asa
5.      Sebagai agen pembawa perubahan.  Guru sebagai pengayon dan juga sebagai sosok yang mewakili misi moral dan nilai dari masyarakat tempat dimana ia bertugas. Guru harus berusaha keras untuk mendatangkan perubahan yang positif terhadap sikap dan perilaku anggota masyarakat melaui proses pembelajaran di sekolah dan melalui interaksi dengan anggota masyarakat melalui proses pembelajaran di sekolah dan melalui interaksi dengan anggota masyarakat setempat. Pendek kata, guru harus mencari, mendatangkan, dan mengajarkan perubahan yang berguna bagian anak didik, orang tua dan masyarakat.

0 komentar:

Posting Komentar